Sabtu, 09 Oktober 2010

Memilih Tripod



Tripod adalah alat yang penting bagi fotografer profesional maupun amatir, tapi karena perkembangan fotografi digital yang cepat, tripod menjadi kurang terkenal.
Fungsi tripod yang terutama adalah untuk menyangga kamera sehingga foto/video tidak kabur. Fungsi ini banyak digantikan oleh fungsi image stabilization (IS) kamera atau lensa dan juga perkembangan kamera digital yang mampu memproduksi foto yang relatif bersih meski dalam setting ISO tinggi atau di tempat yang kurang cahaya. Meskipun demikian, teknologi digital diatas belum sempurna.
Untuk memaksimalkan karya foto, tripod merupakan alat bantu yang wajib dipunyai. Keseriusan seorang fotografer seringkali bisa dilihat dari tripod yang digunakan.

Tips untuk memilih tripod

  • Tripod bisa digunakan dalam jangka waktu lama dan jarang atau tidak bisa kadalursa seperti barang elektronik, oleh sebab itu jangan terlalu pelit dalam membeli tripod. Tripod yang murah sebagian besar berkualitas rendah sehingga cepat rusak, tidak tahan air dan tidak stabil.
  • Mencari ukuran tripod seharusnya disesuaikan dengan peralatan fotografi Anda. Bila Anda mengunakan kamera saku, hendaknya mencari ukuran tripod yang lebih kecil, sedangkan bila mengunakan kamera DSLR profesional dengan lensa super panjang, sebaiknya mengunakan tripod yang besar dan kokoh.
  • Tripod yang berbahan baik, biasanya kokoh tapi ringan, sehingga tidak memberatkan bila dibawa atau dipindahkan. Bahan-bahan yang kokoh tapi ringan antara lain magnesium alloy dan carbon fiber.
  • Tripod yang baik memiliki ball head (kepala tripod) dan kaki yang terpisah, sehingga Anda bisa menukar ball head sesuai dengan kebutuhan.
  • Tripod yang baik memiliki quick release plate, sehingga Anda bisa melepaskan kamera dari tripod dengan mudah dan cepat.
  • Tripod yang baik memiliki bubble head, sehingga Anda bisa mengetahui apakah tripod Anda telah sejajar dengan garis horizon atau belum.
Banyak merek tripod yang beredar di pasaran, tapi ada dua perusahaan yang menurut saya memproduksi tripod yang sangat baik kualitasnya. Mereka adalah Manfrotto dan Induro. Selamat berbelanja!

kebiasaan buruk dalam fotografi

banyak hal-hal yang menjadi kebiasaan buruk para juru potret yang sebenarnya dapat dihindari jika mau memulainya sedari dini untuk menghindari kerugiannya lebih lanjut. Kebiasaan buruk itu biasanya :

1 . Tidak memeriksa kelengkapan peralatan.
Memang biasanya perlengkapan fotografi tersimpan dalam satu tas, tidak ada salahnya untuk men-cek kembali jika keesokan harinya ingin digunakan untuk pemotretan. Yang paling sering tertinggal adalah kartu memori yang lupa dikembalikan setelah mentransfer gambar ke komputer dan batere kamera yang sedang direcharge.

2 . Tidak memeriksa kembali setting di kamera.
Pernah suatu ketika kamera saya dipinjam seorang teman, beberapa jam sebelum acara pemotretan dimulai, saya iseng-iseng men-cek kembali settingannya, wuih ternyata berbeda 180 derajat dengan settingan yang saya pakai. Untung saya sempat men-cek nya kembali, coba kalau tidak...

3 . Terlalu bergantung pada Photoshop.
Saya tidak anti pada Photoshop, malah banyak terbantu karena kahadirannya. Tapi jangan sampai kemajuan teknologi digital menghapuskan kebiasaan baik kita untuk selalu teliti pada detail obyek foto kita dan tidak mentang-mentang semuanya dapat diperbaiki di Photoshop. Misalnya; pemasangan dasi yang kurang proporsional, sisiran rambut yang belum sempurna, lem bulu mata palsu yang copot pada ujungnya.
Lebih teliti pada saat pemotretan tentu akan menghemat waktu dan tenaga pada bagian editing.

4 . Mudah terpesona pada kamera baru.
Memang sesuatu yang wajar jika ada kamera baru dirilis, kita jadi ingin ikut memiliki. Tapi seperti kita tahu, dalam teknologi digital pasti nanti selalu saja ada yang baru menggantikan yang lama. Dalam hal ini tentunya lebih bijaksana jika kita menginvestasikannya pada peralatan yang lebih awet, variasi lensa misalnya.

5 . Menyalahkan peralatan,obyek foto atau keadaan.
Ketika kita memotret sebuah obyek dan hasilnya tidak seperti yang kita inginkan, biasanya dengan mudahnya kita menyalahkan peralatan, obyeknya atau situasi. Ah, si modelnya mahal senyumnya, kalau saja lensa saya lebih tele, langitnya gelap karena kemarin motretnya keburu sore. Ingatlah teman, bahwa semuanya tergantung dari sang fotografer, the man behind the camera, dan bukan yang lain.

do futu

Langkah sebelum memotret

Berbeda dengan pendapat yang popular, foto yang bagus bukan di dapat karena keberuntungan, tapi lebih ke pengambilan keputusan. Banyak hal yang perlu di pikirkan sebelum membuat sebuah foto. Untuk pemula, sulit rasanya harus memikirkan begitu banyak langkah. Tapi dengan latihan yang berkesinambungan, saya yakin kita akan dapat melakukannya secara alami.

1. Temukan subjek yang menarik

Cobalah untuk memilih subjek yang menarik, misalnya di jalan-jalan yang sibuk, usahakan mengambil foto potret dari orang, sebuah bangunan, mobil atau sebuah aktifitas. Berhati-hatilah untuk tidak memasukkan terlalu banyak elemen dalam foto tersebut. Terlalu banyak detail akan membuat orang yang melihat foto menjadi bingung tentang apa yang ingin Anda sampaikan.

2. Kualitas dan arah cahaya

Mengetahui kualitas dan arah cahaya sangat memperngaruhi suasana foto. Secara umum, ada tiga jenis cahaya
Cahaya yang keras (hard light): Biasanya diperoleh dari sumber cahaya yang relatif kecil / terkonsentrasi. Misalnya: cahaya matahari, lampu kilat kamera, senter.
Cahaya (soft light): Biasanya diperoleh dari sumber cahaya yang relatif besar. Contohnya soft box, reflektor, permukaan langit-langit.
Yang terakhir adalah cahaya yang menyebar (diffused light). Cahaya model ini berasal dari sumber cahaya yang relatif sangat besar. Misalnya langit di saat mendung atau tertutup awan.
Arah cahaya (depan, belakang, samping, atas, bawah) juga merupakan aspek yang penting untuk memberikan kesan tertentu. Perhatikan baik-baik arah dan kualitas cahaya.

3. Komposisi

Langkah pertama dalam membuat komposisi yang baik adalah memulai dari memilih latar belakang. Latar belakang yang bersih / polos adalah langkah awal yang baik. Kemudian posisikan subjek dalam lapisan-lapisan. Aturlah sedemikian rupa sehingga komposisi foto terlihat menarik.
Jika Anda baru memulai fotografi, Anda selalu bisa mempelajari rumus-rumus komposisi sebagai acuan. Banyak aturan komposisi yang bisa membantu Anda membuat komposisi yang menarik seperti rule of thirds, golden rasio, skala dan lain-lain.

4. Pilih bukaan / aperture

Bukaan lensa menentukan berapa banyak cahaya yang masuk ke bodi kamera. Bukaan juga mengatur kedalaman fokus (depth of field). Semakin besar bukaan lensa, semakin tipis kedalaman fokus dan sebaliknya. Kita harus menentukan apakah foto yang kita ambil memiliki kedalaman fokus yang tipis atau dalam.
Secara umum untuk foto potret, kita ingin kedalaman fokus yang tipis sehingga potret tersebut terlihat lebih artistik, sehingga bukaan yang kita pilih seharusnya besar. Tapi kalau kita foto pemandangan, kita biasanya ingin semua elemen dalam foto terlihat jelas dan fokus, maka bukaan yang kita pilih seharusnya kecil.

5. Pilih kecepatan rana / shutter speed

Kemudian, kita harus menentukan apakah kita mau membekukan subjek foto, atau merekam pergerakan subjek. Bila kita ingin membekukan subjek, kita harus dengan mengeset shutter speed dengan teliti.
Untuk mencegah blur karena tangan + kamera kita bergoyang, kita juga harus mengikuti aturan 1 / ukuran fokal lensa. Kemudian kita amati berapa cepat subjek foto bergerak. Subjek foto yang bergerak dengan kecepatan tinggi membutuhkan kecepatan rana yang sangat cepat.

6. Memilih lensa dan fokal lensa yang optimal

Tidak semua lensa itu menghasilkan hasil yang sama. Ada lensa lebar, lensa standard dan lensa telefoto. Setiap fokal lensa memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Lensa lebar memberikan kesan dimensi, distorsi, dan kedalaman fokus yang dalam. Di lain pihak, lensa telefoto membuat foto menjadi dua dimensi (efek kompresi), membuat kedalaman fokus menjadi tipis dan membesarkan subjek yang jauh.
Cobalah foto dengan lensa yang berbeda-beda dan fokal lensa yang berbeda-beda untuk semakin memahami efek-efek yang ditimbulkan tiap-tiap lensa.

7. Tentukan ekposur yang optimal

Kamera biasanya menentukan secara otomatis ekposur yang optimal. Tapi kadang setting yang dibuat kamera tidak sesuai dengan keinginan kita. Misalnya, bila kita ingin membuat foto low key (foto yang bernuansa gelap) atau high key (foto bernuansa terang), kita harus mengatur setting kamera sendiri supaya optimal.
Tentukan setting eksposur kamera tergantung dari hasil akhir yang Anda visualisasikan dengan mode manual atau gunakan fungsi kompensasi ekposur, saat mengunakan setting otomatis atau semi otomatis (P,S,A)

8. Timing

Putuskan juga apakah waktu dalam pengambilan gambar penting atau tidak. Untuk foto still life (subjek tidak bergerak), timing mungkin tidak terlalu penting. Tapi untuk candid terutama foto olahraga, timing menjadi sangat penting. Bila demikian, berlatihlah untuk bisa mengambil foto dengan timing yang tepat. Latihan antisipasi, kesabaran dan kuasailah kamera/alat fotografi Anda sehingga bisa mengambil foto dengan timing yang optimal.